Pages

Subscribe:

Senin, 30 September 2013

SEJARAH SINGKAT Berdirinya Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat dan Perjanjian Palih Nagari


SEJARAH SINGKAT Berdirinya Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat dan Perjanjian Palih Nagari

Menghadang Rombongan Gubernur Jendral Van Imhoff

Di pesanggrahan Sokowati para Ronggo dan Demang menunggu-nunggu kembalinya Pangeran Mangkubumi dengan harap-harap cemas. Tiba-tiba datanglah Sang Pangeran dalam keadaan muram dan marah, namun dalam menghadapi para Demang dan Ronggo, perasaan tersebut dipendam, malahan Sang Pangeran berkata dengan senyum: “Saya telah menghadap Sri Sunan selama empat jam. Memang benar apa yang kalian katakan kepadaku. Sekarang tanah-tanah yang telah saya terima dari Kraton telah saya serahkan kembali kepada Sri Sunan. Telah jelas bahwa kompeni Belanda yang ingin memecah belah keluarga kraton. Oleh karena itu, saya akan angkat senjata melawan Kompeni Belanda. Bagaimana tekadmu semua dalam menghadapi keadaan demikian ini?”
Ki Ronggo Kertodjojo menjawab:“Hamba seluruhnya telah bersatu padu membantu Pangeran. Menurut hamba hidup ini untuk mencapai kenistaan atau kemuliaan. Hamba semuanya bersedia mengorbankan jiwa demi membela kebaikan dan kehormatan Paduka Pangeran.”
Setelah mendengar jawaban tersebut, kemudian Pangeran Mangkubumi mengajak mereka menghadang iring-iringan Gubernur Jendral Van Imhoff yang akan kembali ke Batavia. Saat itu Van Imhoff dikawal oleh Kompeni Belanda ditambah prajurit Kraton sebanyak 500 orang yang dipimpin oleh Tumenggung Djojowinoto. Mereka tidak menduga bahwa Pangeran Mangkubumi beserta prajurit Sokowati telah menghadang di perbatasan kota.
Pada saat rombongan Van Imhoff sampai di luar batas kota, tiba-tiba diserang oleh pasukan Pangeran Mangkubumi.
Pengawal Van Imhoff yang tidak menduga akan ada penyerangan mendadak menjadi kalang kabut, bahkan setelah Tumenggung Djojowinoto mengetahui bahwa pasukan penghadang dipimpin langsung oleh Pangeran Mangkubumi, berbalik ikut melawan tentara Kompeni. Meriam-meriam yang semula larasnya diarahkan kepada para penghadang dibalik kearah tentara Kompeni. Sehingga banyak tentara Kompeni yang tewas.
Ratusan senjata tentara Kompeni dapat dirampas di samping mendapat rampasan senjata, juga mendapat tambahan prajurit kraton yang menyeberang ke pihak Pangeran Mangkubumi. Tumenggung Djojowinoto tidak kembali ke Surakarta bergabung dengan prajurit Sokowati, Pangeran Mangkubumi mengangkat prajuritnya yang berjasa dalam pertempuran antara lain: Ki Demang Djojorata diangkat menjadi bupati, bergelar Tumenggung Ronggo Prawirosetiko, Ki Demang Prawirosono menjadi Tumenggung Ronodiningrat, yang lain di beri pangkat Ngabehi dan Lurah.
Di lain pihak tentara Kompeni yang berhasil lolos melaporkan semua kejadian di medan pertempuran serta berbaliknya Tumenggung Djojowinoto yang menyeberang ke pihak lawan.
Mendengar laporan tersebut, hati Sri Sunan Pakubuwono sangat mendongkol. Baginda segera mengirim utusan ke Semarang untuk meminta bantuan kepada Gubernur di Semarang.
Gubernur segera menyiapkan bantuan yang terdiri dari 1000 orang tentara Kompeni yang dipimpin oleh Mayor De Clereq disertai perintah untuk menangkap Pangeran Mangkubumi. Gubernur menjanjikan apabila Mayor De Clereq dapat menagkap Pangeran Mangkubumi akan diangkat menjadi Jendral Perang.

Pesanggrahan Sokowati diserang

Pasukan Kompeni yang berjumlah 1000 orang ditambah prajurit Kraton Surakarta sebanyak 1000 orang, menyerbu Pesanggrahan Sokowati dipimpin oleh Mayor De Clereq dibantu Tumenggung Honggowongso, Tumenggung Wiroguno dan Tumenggung Kertonegoro.
Dengan adanya serangan mendadak, prajurit Sokowati mengadakan gerakan mundur. Pertempuran sengit berlangsung hingga jam 5 pagi. Prajurit Sokowati terus bergerak mundur sampai keadaan aman. Barulah beristirahat sebentar setelah tiba di Gunung ‘Jalur’.
Pada suatu malam saat Pangeran Mangkubumi sedang mandi di sebuah Sendang bernama Soka, beliau mendengar bisikan gaib: “Pangeran, kalau Engkau ingin menang dalam peperangan, berjalanlah lurus kearah barat, menuju kota Purworejo.”
Maka segera Pangeran Mangkubumi menyiapkan prajurit bergerak menuju Purworejo. Di Purworejo, Beliau bertemu dengan seorang Demang yang mempunyai pusaka berwujud tombak dan  gamelan.
Demang tersebut mengatakan bahwa pusaka miliknya tidak ada yang kuat menyimpannya kecuali Pangeran Mangkubumi. Oleh karena itu hamba simpan di luar rumah dalam sebuah gubug. Selesai menceritakan ilhamnya, segera menyerahkan pusaka tersebut kepada Pangeran Mangkubumi.

Mayor De Clereq terbunuh

Mayor De Clereq berusaha keras menemukan markas Pangeran Mangkubumi agar segera dapat menangkap hidup-hidup untuk dihadapkan kepada Gubernur Jendral di Batavia.
Dari hasil penyelidikannya, Clereq dapat mengetahui bahwa Pangeran Mangkubumi bermarkas di Purworejo.
Dengan kekuatan 500 orang tentara, Mayor Clereq bergerak ke Purworejo. Di pihak Pangeran Mangkubumi selalu dalam keadaan siaga untuk menantikan lawannya.
Pada jam tujuh pertempuran berkobar, Pangeran Mangkubumi membawa tombak pusaka dari Demang Purworejo. Tanpa diduga bahwa Pangeran Mangkubumi akan berhadapan langsung dengan Mayor De Clereq. Terjadi perang tanding antara kedua pemimpin pasukan. Kepandaian menaiki kuda dicurahkan sepenuhnya “Sapa lena kena” (siapa yang lengah tewas). Rupanya telah menjadi takdir Mayor De Clereq tewas terkena tombak dalam perang tanding melawan Pangeran Mangkubumi.
Begitu jatuh dari kuda secepat kilat Tumenggung Sosronegoro turun dari kudanya langsung memenggal leher De Clereq sekuat-kuatnya dan putuslah kepalanya dari tubuhnya.
Setelah pertempuran usai Pangeran Mangkubumi langsung mengangkat Demang Purworejo menjadi Bupati Purworejo. Tombak yang berhasil membunuh De Clereq diberi nama Kyai Klerek dan Gamelan yang dibunyikan selama peperangan berlangsung di beri nama Kyai Sorak.
Beberapa hari kemudian setelah kemenangan atas pasukan Mayor De Clereq, Pangeran Mangkubumi beserta pasukannya kembali ke Sokowati. Prajurit yang berasal dari Purworejo dan sekitarnya diserahkan kepada Bupati Purworejo yang baru diangkatnya.

Para prajurit maupun pemimpin pasukan Kasunanan bergabung dengan Pangeran Mangkubumi

Tentara Kompeni setelah mendengar gugurnya Mayor De Clereq dengan cara yang sangat mengerikan, lari tunggang langgang menyelamatkan diri. Sedang mereka yang tidak sempat melarikan diri dihabisi oleh prajurit Pangeran Mangkubumi.
Tumenggung Martopuro yang berhasil lolos dari pengejaran prajurit Mangkubumi, bersembunyi di Semarang, menyamar sebagai encik, yang kepalanya digunduli dan memakai kopiah encik. Martopuro mengganti namanya menjadi Encik Purok, berteman dengan seorang Bugis bernama Talong.
Setelah lebih kurang tiga tahun tinggal di Semarang, ia mendapat ilham untuk mengabdi kepada Pangeran Mangkubumi. Kemudian Martopuro bersama menantunya bernama Raden Suwandi dan Talong menghadap Pangeran magkubumi. Ketiga orang tersebut diterima dengan senang hati, karena sebelum kedatangan mereka bertiga, Pangeran Mangkubumi sudah menerima wisik, bahwa untuk memenangkan perang harus mengajak Tumenggung Martopuro.
Tumenggung Matorpuro lalu diangkat menjadi Bupati bergelar “Adipati Puger” dengan tugas sebagai pucuk pimpinan prajurit Sokowati. Menantunya, Raden Suwandi juga diangkat menjadi bupati dengan nama Tumenggung Suryanegara. Talong diangkat menjadi pimpinan prajurit Tamtama.
Setiap hari pasukan Pangeran Mangkubumi mengadakan latihan perang-perangan guna mengasah kemampuan bertempur dengan menyerang daerah kerajaan Kartosuro secara teratur sehingga berhasil menaklukkan kota-kota: Grobogan, Pati, Kudus, Yuwono, Boyolali, Tuban dan Purwodadi.
Pangeran Mangkubumi sangat bangga melihat keperwiraan prajuritnya.
Di Kraton Surakarta Sri Sunan Paku Buwono telah menerima laporan tentang kekuatan pasukan Pangeran Mangkubumi. Beliau lalu mengirim utusan untuk minta bantuan kepada Gubernur Jendral di Batavia.
Setelah bala bantuan tiba di kraton Surakarta, Sri Sunan segera memerintahkan untuk menyerang Sunan Hadiprakoso di Gumantar. Sebagai pimpinan ditunjuk Mayor Van Hogendorff dibantu oleh prajurit Kraton Surakarta dibawah pimpinan Tumenggung Mangkujuda, Tumenggung Wirobumi, Raden Tumenggung Rojoniti dan Tumenggung Soerodiningrat, dengan mengerahkan prajurit sebanyak 10.000 orang, gabungan antara tentara kompeni dengan prajurit Kasunan. Pasukan Sunan Hadiprakoso dapat ditundukkan dalam waktu singkat. Kemudian pasukan Kasunan melanjutkan penyerangan ke Kraton Sultan Dandun Mantengsari di Gunung Kidul. Dalam pertempuran tersebut Sultan Dandun Mantengsari gugur.
Sunan Hadiprakoso beserta ibundanya “Mas Ayu Sonowati” dan patihnya Tumenggung Kudonowarso berhasil melarikan diri. Dalam pelarian tersebut pendeta Somokateng menganjurkan kepada Sunan Hadiprakoso beserta pengikutnya agar bertapa di Gunung “Dunuk”.
Setelah genap 100 hari bertapa, Sunan Hadiprakoso mendapat anugrah pusaka berupa sebuah tambur dan selembar bendera. Selanjutnya Somokateng memberi saran agar Sunan mengabdi kepada Pangeran Mangkubumi.
Sunan Hadiprakoso menuju Sokowati diikuti oleh Patih Kudonowarso dan dikawal oleh tiga prajurit. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan lima prajurit menunggang kuda. Setelah mereka saling berkenalan, kelima prajurit tersebut mempersilahkan Sunan Hadiprakoso untuk menungga kuda yang memang telah dipersiapkan untuk diantar menghadap Pangeran Mangkubumi karena beliau sudah lama sekali ingin bertemu Sunan Hadiprakoso.
Setibanya di Sokowati, Sunan Hadiprakoso menceritakan hal ihwalnya sampai pada petaka yang menimpa keluarga dan rakyatnya, Sunan juga mengajukan permohonan untuk mengabdi kepada Pangeran Mangkubumi. Permohonan tersebut diterima dengan baik, namun harus melepas gelar ‘Sunan’.
Sunan Hadiprakoso sendiri mengakui bahwa dirinya belum menerima wahyu untuk menjadi sunan. Pangeran Mangkubumi kemudian berkenan memberi gelar Pangeran Adipati Mangku Negoro alias Satriyo Samber Nyowo dan diperintahkan untuk merebut kembali daerahnya yang telah diduduki tentara kompeni Belanda.
Pada saat itu Gumantar diperintahkan oleh Tumenggung Nitinegoro dan Tumenggung dan Tumenggung Wanengpati serta 100 orang tentara kompeni di bawah pimpinan Tuan Van der Pol dan Kapten Koelman.

Pangeran Adipati Mangkunegoro diambil menantu oleh Gusti Pangeran Mangkubumi

Dalam melaksanakan perintah Pangeran Mangkubumi, Satriyo Samber Nyowo didampingi oleh Tumenggung Surjonegoro, Tumenggung Djojodirjo, dan Tumenggung Dojoningrat.
Pusaka berupa tambur yang diperolehnya ketika bertapa di Gunung Dunuk, selalu dibawa kemana saja selama berperang melawan tentara kompeni Belanda.
Pertahanan Gumantar dengan mudah dapat dihancurkan oleh pasukan Pangeran Samber Nyowo. Semua tentara kompeni dapat dibunuh tak seorangpun yang dibiarkan untuk hidup. Tumenggung Nitinegoro dan prajuritnya melarikan diri. Semua peralatan yang ditinggal lari jatuh ke tangan pasukan Adipati Mangkunegoro.
Setelah Gumantar dikuasai oleh prajurit Sokowati, kemudian dilanjutkan ke bekas daerah kekuasaan Sultan Dandun Mantingsari di Gunung Kidul. Dalam waktu hanya satu hari, daerah tersebut dapat dikuasai.
Betapa gembiranya Pangeran Mangkubumi atas hasil yang dicapai oleh Pangeran Samber Nyowo. Sebagai tanda kepuasan atas terlaksananya perintah tersebut, Pangeran Adipati Mangkunegoro diperkenankan istirahat di dalam ‘Tamansari Sokowati’.
Dalam tamansari tersebut putri Gusti Pangeran Mangkubumi bernama Raden Ajeng Kusuma Wardani, sedang dihadapi para inang pengasuhnya, tidak tahu bahwa di dalam tamansari tersebut sedang beristirahat Pangeran Adipati Mangkunegoro. Saat kedua insan tersebut beradu pandang, tertancaplah panah asmara di hati mereka. Akhirnya, Gusti Pangeran Mangkubumi memutuskan untuk mengambil Pangeran Adipati Mangkunegoro sembagai menantunya.
Pesta perkawinan antara Sang Dyah Ayu Kusuma Wardani dengan Pangeran Adipati Mangkunegoro berlangsung sangat meriah, sekalipun asap mesiu masih mengepul di sebagian wilayah kekuasaan Pangeran Mangkubumi.

Penyerbuan Pasukan Pangeran Mangkubumi ke Kraton Surakarta

Gubernur di Semarang, Mayor Van Hogendoroff mengumpulkan semua tentara kompeni Belanda yang berani melawan Pangeran Mangkubumi, seorang diantaranya bernama Seheber berpangkat sersan, menyanggupi melawan prajurit Pangeran Mangkubumi.
Scheber kemudian diangkat menjadi pimpinan perang dan pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Scheber membawa pasukan sebanyak 5000 orang tentara kompeni Belanda, diperkuat dengan 3000 prajurit Kraton Surakarta yang dipimpin Patih Adipati Sindureja, Tumenggung Wiroguno, Tumenggung Nitinegoro dan Tumenggung Rejoniti.
Gerakan pasukan kompeni tidak secepat seperti yang di rencanakan. Setibanya di desa Jati lawang mendapat serangan kecil dari pasukan Pangeran Mangkubumi.Pada malam hari prajurit-prajurit pasukan Pangeran mangkubumi melakukan sergapan, mencuri perbekalan dan perlengkapan perang dari pihak lawan.
Dari telik sandi di terima laporan bahwa kompeni dan  pihak Kraton Surakarta akan menyerang kedudukan Pangeran Mangkubumi di Sokowati.
Sebaiknya seorang ahli siasat perang, Pangeran Mangkubumi memutuskan menyerang lebih dahulu daripada menunggu mungsuh di tempat pertahanan. Pasukan Mangkubumi menyerang Kraton Surakarta dari arah selatan melalui Gading. Adipati Puger dengan prajurit ”Tamtama” menyerang dari arah timur, terus menuju Slompretan. Setelah malam hari, pasukan Mangkubumi melalui desa Kleco langsung masuk alun-alun dan berhasil membakar habis perbekalan dan perlengkapan tentara Belanda serta merampas senjata-senjata yang di tinggalkan musuh.
Saat maatahari terbit, pasukan Mangkubumi mulai melakukan penyerangan menjadi pertempuran sengit, Prajurit Sokowati yang bersenjata tombak menyerang tentara kompeni membuatnya kocar-kacir dan lari terbirit–birit, meninggalkan teman-temannya yang tewas.
Para Pangeran dan pimpinan pasukan  Surakarta setelah melihat dan mengetahui bahwa pangeran Mangkubumi berada di tengah-tengah barisan prajurit Sokowati menjadi kecut hatinya.
Pangeran Hadinegoro, Pangeran Danupraja, Pangeran Mangku Kusuma kemudian berbalik menjadi pengikut Pangeran  Mangkubumi.
Kemudian Pangeran Mangkubumi langsung memimpin pasukannya menyerbu Kraton Surakarta. Meriam  yang berada di Stihinggil semula di arahkan ke Gusti Pangeran Mangkubumi, tidak dapat memuntahkan peluru, justru bungkam. Suatu keajaiban yang menyelamatkan jiwa Pangeran Mangkubumi.
Kejadian tersebut menimbulkan ketakutan tentara Belanda dan prajuri Sunan Paku Buwono. Kesempatan tersebut di gunakan pasukan Mangkubumi untuk bergerak maju. Akhirnya tentara kompeni Belanda bubar lari masuk ke Kraton dan melaporkan kepada Sri Sunan tentang kekalahan pasukannya.
Demi mempertahankan martabat, Sri Sunan bersama-sama tentara kompeni turun ke medan pertempuran menghadapi adiknya sendiri.
Pasukan Sri Sunan yang berupa “Gong” bernama Kyai Becak di talunya, tetapi tidak mau berbunyi. Sri Baginda sangat malu atas peristiwa ini, dalam hati beliau menggumam : “benar-benar adikku mendapat perlindungan dari Tuhan. Aku sendiri telah melanggar janjiku di hadapan almarhum ayahku. Almarhum berpesan, apabila aku menyakiti hati adiku merupakan pertanda kerajaan akan terpecah menjadi dua bagian”.
Setelah pengumuman beliau berdoa kepada Tuhan agar mengampuni segala kesalahannya, kemudian di tabuh pasukan “Gong Kyai Becak” dan ternyata dapat berbunyi bertalu-talu dengan gema gelombang.
Pangeran mangkubumi mendengar bunyi “Gong” yang khas, segera memerintahkan kepada prajurit untuk mundur. Bunyi “Gong” yang bertalu-talu menandakan pasukan Kyai Becak marah.
Sunan bersyukur kepada Tuhan karena pangeran  Mangkubumi dan prajuritnya mengundurkan diri Ke Sokowati.
Pimpinan tentara kompeni melihat perubahan  situasi mendadak, kemudian melaporkan hal tersebut kepada Gubernur di Semarang di sertai permintaan bala bantuan dari tentara kompeni yang berada di Ambon, Menado dan Madura.
Pemimpin tentara kompeni tidak mau lagi memakai tentara kompeni  yang ada di Jawa karena setiap pertempuran menghadapi prajurit-prajurit Sokowati, tentu kocar-kacir dan  prajurit Surakarta yang kalah selalu berbalik ke pihak Pangeran Mangkubumi dan tidak mau menyerang Sokowati.
Tentara yang berada di Jati Lawang  yang akan menuju Sokowati terhenti gerakannya dikarenakan berbaliknya prajurit-prajurit Surakarta ke pihak Pangeran Mangkubumi. Dengan kejadian tersebut, kompeni Belanda kembali ke Kraton Surakarta. Namun setelah tiba di desa Tanjung bertemu langsung oleh Pangeran Adipati Mangkunegoro. Pertemuan berkobar. Akhirnya tentara Kompeni Belanda berhasil di ceraiberaikan dan sebagian melarikan diri ke arah utara. Malang bagi mereka karena bertemu dengan pasukan Sokowati yang di pimpin Tumenggung Surjonegoro. Mayor Scheber melihat pasukannya kocar-kacir, ketakutan dan melarikan diri dari barisannya.
Namun sialnya bagi Mayor Scheber karena dalam usahanya melarikan diri bertemu pasukan Sokowati yang di pimpin oleh Ki Ronggo Djojodirjo dan Tumenggung Josodiningrat. Dalam kebingungan akhirnya tewas kerena terperosok dengan kudanya kedalam  jurang.
Kapten Blangker yang lolos, kemudian lari ke Demak. Kepada Bupati Demak, Tumenggung Kertonegoro, Blangker meminta bantuan tetapi di tolak. Kemudian  Blangker menuju Semarang dengan di kawal delapan orang tentara kompeni.
Setelah menghadapi Gubernur Semarang, Mayor Van Hogendorff, Blangker melaporkan segala kejadian dalam  bertempur melawan prajurit-prajurit Sokowati dan memohon agar Gubernur segera mengirim bala bantuan.

Pangeran Mangkubumi menolak bujukan Kompeni Belanda untuk menghentikan perang.  

Setelah menerima laporan dari Kapten Blangker, Gubernur Semarang, Mayor Van Hogendorff memanggil Bupati Semarang, Tumenggung Hendronoto. Ia di perintahkan untuk menyampaikan pesan kepada Pangeran Mangkubumi.
Pesannya sebagai berikut : Apabila Pangeran Mangkubumi kembali ke Kraton, beliau akan diangkat menjadi Raja dan diberi kekuasaan atas separo tanah Jawa serta di janjikan apa saja yang Beliau minta akan di penuhi.
Atas tawaran tersebut Pangeran  Mangkubumi menjawab kepada Tumenggung Hendronoto sebagai berikut : “Aku tidak ingin jadi raja sebab Kakanda Sri Sunan masih bertahta, Aku juga tidak ingin menerima apa-apa dari Belanda, sebab Belanda itu pendatang tidak mempunyai hak mengangkat aku menjadi Raja. Aku keturunan orang jawa di angkat atau tidak di angkat, juga harus dari orang jawa.”
Pangeran Widjil dan Tumenggung Hendronoto setelah mendengar jawaban yang demikian ,badannya menjadi gemetar lalu mohon diri kembali ke Semarang.
Utusan tadi melaporkan ikhwalnya kepada Gubernur. Mendengar laporan tersebut Hogendorff  naik pintam. Gubernur segera memerintahkan Kompeni Belanda untuk bersiap-siap menggempur Sokowati.
Pangeran Mangkubumi telah memperhitungkan bahwa jawaban kepada Gubernur Semarang tersebut akan membuatnya marah dan pasti akan menyerang Sokowati. Oleh karenanya, Beliau mengadakan persiapan selengkap-lengkapnya guna menghadapi serangan tentara kompeni. Beliau memerintahkan kepada para prajurit Sokowati untuk memindahkan kubu pertahanan ke daerah Doropulu yang memiliki nilai strategis sebagai pertahanan.
Kompeni setelah mengetahui bahwa pertahanan Pangeran Mangkubumi dipindahkan, segera menyerang daerah tersebut. Namun sesampainya di sana pasukan Kompeni terkejut kerana tidak menjumpai pasukan Pangeran Mangkubumi. Itu akrena kubu pertahanan telah dipindahkan ke Gunung Tidar. Hal tersebut dilakukan karena Pangeran Mangkubumi mendapat wisik bahwa untuk memenangkan perang harus memindahkan kubu pertahanan di Gunung Tidar.
Dalam perjalanan menuju Gunung Tidar, Pangeran Mangkubumi dan Adipati Puger tidak lupa melakukan sholat dan selalu membaca syahadat serta ayat-ayat Al-Quran.
Setibanya di Gunung Tidar segera mengatur kubu pertahanan. Ribuan penduduk setempat bergotong royong membantu prajurit dalam upaya menyusun pertahanan.
Tentara kompeni setelah mendengar bahwa Pangeran Mangkubumi berada di Gunung Tdar segera mengerahkan pasukannya ke sana. Pertempuran berlangsung dari pagi hingga matahari terbenam. Kompeni Belanda menderita kekalahan besar dalam pertempuran tersebut. Prajurit Kraton Surakarta banyak yang melarikan diri. Hanya sebagian kecil tentara kompeni dan prajurit Kraton Surakarta yang berhasil selamat sampai Kraton Surakarta.
Setelah merayakan kemenangan, Pangeran Mangkubumi segera memindahkan lagi pertahannya ke Mataram. Setelah kurang lebih satu bulan beristirahat di Mataram, Pangeran Mangkubumi membangun sebuah pesanggrahan di Kabanaran, yang letaknya di sebelah barat kota Yogyakarta, utara Gunung Gamping.

Kompeni Belanda berhasil membujuk Pangeran Mangkunegoro untuk memusuhi mertuanya.

Senjata ampuh dalam sejarah bangsa, tak lain adalah bujukan manis.  Sayang Pangeran Mangkunegoro termakan bujukan dari Gubernur Semarang untuk membunuh Pangeran Mangkubumi yang tidak lain adalah mertuanya sendiri.
Dalam komplotan jahat tersebut, Pangeran Mangkunegoro dibantu oleh Tumenggung Suromenggolo dan Tumenggung Mangkuprojo yang dijanjikan untuk diangkat menjadi Patih.
Pangeran Mangkubumi yang ahli dalam siasat perang serta paham pemerintahan Kraton, segera mencium komplotan jahat tersebut.
Tumenggung Surmenggolo dan Tumenggung Mangkuprojo dapat ditangkap dan kemudiandibunuh. Atas terbunuhnya dua Tumenggung tersebut, Pangeran Mangkunegoro menempatkan diri sebagai pembela, berkobarlah pertempuran antara Gusti Pangeran Mangkubumi melawan Adipati Mangkunegoro.
Pemberontakan tersebut dapat segera dipadamkan. Praurit Mangkunegoro cerai berai sedang Pangeran Mangkunegoro melarikan diri di sebelah timur Hutan Simo.

Sunan Paku Buwono ke II Mangkat

Mendengar perselisihan antara Gusti Pangeran dengan menantunya sendiri, Sri Baginda Sunan Pakubuwono II menjadi sedih sehingga jatuh gering dan akhirnya mangkat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1749. Jenazah almarhum dikebumikan di makan “Laweyan Solo” Rakyat berkabung selama tujuh hari.
Dengan mangkatnya Sunan Paku Buwono ke II, putra beliau bernama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom dinobatkan menjadi raja. Oleh Gubenur Jendral di batavia, bergelar Sri Sunan Paku Buwono ke III. Sunan baru ini berjanji utuk bekerja sama dengan Kompeni Belanda

Pangeran haryo Mangkubumi menjadi Raja Mataram

Rakyat Mataram setelah mendengar Sri Sunan Paku Buwono II telah mangkat, lalu mengangkat Pangeran Haryo Mangkubumi sebagai Raja dengan gelar Sri Sunan Kabanaran. Pesanggarahan Ambar Ketawang dijadikan Kraton Mataram.
Sri Sunan Kabanaran didampingi oleh saudaranya Pangeran Hadiwidjaja memberitahukan kepada Sri Sunan Paku Buwono ke III akan peristiwa tersebut yang kemudian memberi persetujuan atas pengangkatan itu.

Nasib Tumenggung Mangunhoneng

Gubernur Jendral Batavia mejadi khawatir karena Raja di Jawa dapat kembali. Ia kemudian memerintahkan kepada Pangeran Pancuran dan Tumenggung Mangunhoneng untuk menyampaikan pesan agar Sunan Kabanaran kembali ke Kraton Surakarta dengan janji akan diangkat menjadi raja serta segala permintannya akan dipenuhi oleh Kompeni Belanda.
Kedatangan Sri Sunan Kabanaran membaca surat dari Gubernur Jendral, beliau berkata:”Aku sudah tidak percaya lagi perkataan Kompeni. Sekarang kamu kembali saja dengan membawa surat jawabanku, Tumenggung Mangunhoneng supaya tinggal disini, aku rindu padamu.”
Setelah Pangeran Pancuran meninggalkan Kraton Kabanaran, bersabdalah Sri Sunan: “Hai Mangunhoneng, memang aku rindu padamu, kedatanganmu menjadi obat rinduku, Engkau sendirilah yang akan menjadi obatku. Sudah tiba saatnya untuk menjatuhkan hukuman padamu. Aku masih ingat waktu engkau memenangkan kartosuro, suaramu sangat menyakitkan telinga. Sekarang Sunan Paku Buwono ke II teah tiada, akulah yang menuntut balas keadamu.”
Mendengar sabda Sri Sunan tersebut, Tumenggung Surjonegoro dan Tumenggung Prawirosetiko dengan cepat menangkap Tumenggung Mangunhoneng. Sri Sunan turun dari siggasananya sambil menarik wedung dan menyerahkan wedung tersebut kepada Ki Singonegoro. Ki Singonegoro menyambut wedung tersebut dan secepat kilat diayunkan ke leher Tumenggung Mangunhoneng. Kepalanya terpental, darah berhamburan dari tubuh yang tidak berkepala. Suasana pisowanan menjadi mencekam, kemudian keluarlah perintah Sri Sunan agar mayat Mangunhoneng dikubur di perempatan jalan. Kemudian Sri Sunan bertitah:”Hai semua prajuritku, bersaksilah wedung yang berlumuran darah ini, aku beri nama Mangunhoneng. Mulai sekarang kalian semua aku perintahkan berlatih perang agar bisa siap sedia menghadapi musuh.

Perjianjian Giyanti

Ketika pangeran Pancuran tiba kembali ke Batavia selesai menunaikan tugasnya sebagai utusan dari Gubernur Jendral untuk menemui Sri Sunan Kabanaran, beliau menyampaikan jawaban surat dari Sunan Kabanaran. Setelah selesai membaca Gubernur Jendral sangat cemas hatinya.
Pada suatu hari Gubernur Jendral menerima tamu dari negeri Ngerum bernama Tuan Sayid. Tamu yang menghadap tersebut mohin izin untuk berlabuh di Batavia karena kepalanya rusak. Gubernur Jendral dengan cepat melihat suatu kesempatan yang baik guna melaksanakan suatu rencana untuk menanggapi jawaban Sri Sunan Kabanaran.
 “Tuan Sayid, engkau kami izinkan untuk menetap di sini selamanya tetapi aku minta suatu bantuan kepadamu. Berhubung peperangan di Pulau Jawa ini berlangsung lama dan belum berakhir maka tolong hentikan peperangan ini.”
“Tuan Gubenur Jendral, aku ini bukan seorang prajurit dan tidak tahu seluk beluk peperangan.” Gubernur Jendral mendesak lagi: “Menurut keyakinanku engkau pasti dapat menghentikan peperangan itu sebab orang Jawa sangat menghormati orang-orang dari Negeri Ngerum. Tidaklah surat keterangan itu menerangkan bahwa engkau berasal dari Negeri Ngerum? Lagi pula surat keterangan itu ditulis dengan huruf Arab. Katakanlah kepada Sri Sunan Kabanaran di Mataram bahwa engkau itu utusan dari Raja Ngerum untuk menghentikan peperangan di Pulau Jawa. Apabila Sri Sunan bersedia menghentikan peperangan maka segala perintahnya akan dikabulkan oleh Raja Ngerum.”
Tuan Sayid menyanggupi namun ada beberapa hal yang harus dipenuhi:
1.      Minta diantar oleh tentara Kompeni Belanda
2.      Pengantar harus memakai sorban
3.      Dalam menjalankan tugas dilarang berbicara satu sama lain agar tidak diketahui bahwa mereka orang Belanda
4.      Apabila peperangan dapat benar-benar berhenti, aku mohon dapat terus menetap di Pulau Jawa sampai pada keturunan-keturunanku
5.      Kalau ada kesalahan-kesalahan tidak boleh digugat oleh Gubernur Jendral.
Gubernur Jendral tidak keberatan memenuhi syarat-syarat yang diminta tuan Sayid. Untuk mengamankan perjalanan rombongan Tuan Sayid, Gubernur Jendral mengeluarkan pengumuman kepada rakyat di jawa yang berisi himbauan, barang siapa kedatangan utusan dari Raja Ngerum, harus menghormati dan menjamunya karena utusan itu ditugaskan untuk membuat ketentraman kepada rakyat dan negara.
Setelah rombongan diterima oleh Sunan Kabanaran lalu diadakan sholat bersama di Kraton dan Sunan yang menjadi imamnya. Selesai sholat Tuan Sayid membaca ayat-ayat suci dari kitab Al Quran serta memohonkan keselamatan bagi Sunan dan keluarganya.
Selesai berdoa Tuan Sayid menguraikan maksud kedatangannya ke Pulau Jawa, yang khusus menghadapi Sri Sunan Kabanaran yang bertahta di Kraton Ambar Ketawang Mataram. Titik berat uraiannya adalah akibat dari peperangan yang melanda Pulau Jawa adalah kesengsaraan rakyat dan negaranya. Tuan Sayid juga menyampaikan pesan dari rajanya Sultan Abdulah Chatbisat yang meminta dengan hormat agar Sri Sunan Kabanaran menjauhi peperangan. Apabila Sri Sunan Kabanaran berkenan mentaati permintaan Sultan Abdulah Chatbisat maka segala permintaan Sri Sunan akan dipenuhi oleh Raja Ngerum. Permintaan Sultan Abdulah Chatbisat itu jgua disampaikan kepada Kompeni Belanda dan Kompeni Belanda juga berjanji tidak akan melakukan peperangan lagi. Untuk memberikan suatu bukti kepada Sri Sunan Kabanaran, maka utusan itu benar-benar dari Negeri Ngerum maka ditunjukkanlah surat keterangan yang bertuliskan huruf Arab.
Setelah meneliti Surat keterangan tersebut dengan seksama senyum geli menghias sekejap di wajah Sri Sunan sebab Sri Sunan mengetahui bahwa surat keterangan Tuan Sayid itu isi dan maksudnya dibuat oleh Gubernur Jendral di Batavia bukan berasal dari Sultan Ngerum.
Dengan penuh kebijaksanaan tapi tegas, Sri Sunan Kabanaran berkata kepada Tuan Sayid:
1.      Saya harus menjadi raja yang diangkat oleh rakyat dari Mataram bukan diangkatoleh Kompeni Belanda.
2.      Kami minta agar keponakanku, Sri Sunan Paku Buwono III tetap menjadi raja di Surakarta.
3.      Pusaka-pusaka kraton peninggalan nenek moyang kami dari Kraton Surakarta harus dibagi dua, untuk kami dan untuk Sri Sunan Paku Buwono III. Dan tanah yang kami kuasai harus tetap menjadi milikku.
4.      Gubernur Semarang harus dipecat dan diganti sebab dia seorang yang hanya mementingkan diri sendiri.
Tuan Sayid yang telah mendengar keempat persyaratan dari Sri Sunan tersebut dapat menyetujui. Selanjutnya Tuan Sayid minta kepada Sri Sunan untuk segera mengumumkan gelarnya “Sri Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Ngalogo Ngabdul Rakhman Sayidin Panatagama Kalifatulah”.
Selanjutnya Sri Sunan Paku Buwono III tetap menjadi raja, berarti Negara harus dibagi dua, yaitu Kerajaan Surakarta dan Kerajaan Mataram dengan Sri Sunan Kabanaran sebagai rajanya. Pusaka-pusaka peninggalan para leluhur dari Kerajaan Surakarta dibagi menjadi dua.
Adapun daerah yang menjadi milik Sri Sunan Kabanaran (Sri Sultan Hamengku Buwono I) sesuai perjanjian adalah:
1.      Mataram
2.      Tegal dan Pekalongan
3.      Banyumas
4.      Kedu dan Bagelen
5.      Ambarawa dan Salatiga
6.      Madura, Maospati dan Ponorogo
7.      Pasuruhan, Malang dan Jawa Probolinggo
8.      Tuban, Pati, Yuwono dan Kudus
9.      Grobogan, Purwodadi dan Jepara
10.  Kartosuro, Blora dan Nganjuk
Daerah-daerah tersebut di atas semula dikuasai oleh Sunan Paku Buwono III, kemudian diserahkan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I. Separo pusaka dari Kraton Surakarta diserahkan dengan upacara kepada Sri Sunan Kabanaran yang bergelar Sri Sultan Hamengku Buwono I.
Pelaksanaan perjanjian antara Sri Sunan Paku Buwono III dengan Sri Sultan Hamengku Buwono I bertempat di oro-oro hutan “Giyanti” pada tanggal 11 Februari 1755 dengan upacara kenegaraan dan gelar pasukan. Masing-masing raja membawa sepasukan prajurit.
Gubernur Jendral di Batavia yang baru bernama Mossel dan Gubernur Semarang yang baru bernama J.V Nicolas Harting turut menyaksikan perjanjian Giyanti tersebut.

Sri Sultan Hamengku Buwono I membangun Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Setelah beberapa lama Sri Sultan Hamengku Buwono bertahta di Pesanggrahan Ambar Ketawang, Baginda teringat akan wisik yang diterima oleh Tumenggung Danurejo di kala masih dalam peperangan di daerah Tanjung.
Wisik tersebut disampaikan kepada Pangeran Mangkubumi sebagai berikut: “Pangeran akan dapat bertahta lama apabila dapat menutup rawa di daerah Pacethokan di hutan Beringin”.
Itulah yang menjadi keprihatinan Sri Sultan Hamengku Buwono. Setiap malam Sri Baginda berjalan-jalan menyusuri tempat yangt elah ditunjuk dalam wisik itu.
Pada suatu malam Sri Sultan melihat seorang yang sedang mengail, anehnya orang tersebut mengeluarkan cahaya “aureale”, menurut Kamus John Echols & Hassan Shadily adalah lingkaran cahaya yang kelihaan bersinar dari kepala orang suci.
Sri Sultan bertanya, “Saya lihat kyai memancing tidak memakai umpan, apa bisa mendapat ikan?”
“Tentu dapat sebab ikannya yang mendekat. Tahukan Engkau bahwa besok pagi itu hari kelahiran Raja saya. Saya pasti membuat sesuatu peringatan untuk keselamatan raja.”
● “Raja manakah Kyai?”
-  “Sekarang ada di Negara ini, ia sedang prihatin dan berada di depan saya.”
● “Siapakah sebenarnya nama Kyai?”
-  “Saya adalah Kyai Wirodjambo Dono Murah.”
Kemudian Kyai itu mengajak Sri Sultan singgah ke rumahnya. Mereka melanjutkan percakapan di langgar dalam Bahasa Jawa halus. Wirodjambo membuka tabir rahasia dirinya: “Saya adalah putra Sunan Paku Buwono I yang dilahirkan dari Nyai Rondo Cumbing.
Setelah mengetahui jati diri Wirodjambo adalah pamannya sendiri, kemudian Sri Sultan bertanya: “Tempat mana yang paling baik untuk mendirikan kraton baru?” Jawab Wirodjambo: “Di sebelah tenggara hutan Beringin yang dari sini kelihatan bersinar.”
Sri Sultan sangat gembira atas penjelasan serta petunjuk dari Kyai Wirodjambo. Setelah tiba kembali ke Kraton Ambar Ketawang, Sri Sultan memanggil para pejabat kraton dan memerintahkan para ahli bangunan untuk menutup arwa di desa Pacethokan. Pohon-pohon ditebangi, Sungai Winongo yang mengalir di daerah itu dipindahkan alirannya ke barat dan Sungai Code dialirkan ke timur. Pembangunan kraton baru tersebut dipimpin sendiri oleh Sri Sultan kurang lebih satu tahun. Kraton baru tersebut diberi nama Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang menjadi pusat pemerintahan.
Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah raja berbudi luhur, adil bijaksana, berjiwa ksatria, jujur dan tepa selira maka sangatlah dihormati oleh rakyatnya. Di bawah pemerintahan Beliau, kebudayaan dan kesenian mencapai kemajuan pesat baginda juga seorang ahli seni gamelan. Gending Gajah Hendro adalah ciptaannya. Baginda juga ahli dalam seni tari, salah satu ciptaannya adalah “Beksa Lawung”.
Pada masa pemerintahannya, ada peninggalan berharga berupa bangunan tempat beristirahat dan pemandian yang diberi nama “Tamansari”, dibangun tahun 1765 atau tahun 1691 Saka ditulis dengan Candra Sengkala “Linging Sekar Sinesep Peksi”.
Sri Sultan Hamengku Buwono I memegang Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat mulai tanggal 13 Februari 1755 hingga wafat tanggal 24 Maret 1792. Tutup usia 75 tahun dan dimakamkan di Makam Kraton Imogiri.

Sumber bacaan: “Sejarah ‘Berdirinya Kota kebudayaan Ngayogyakarta Hadiningrat” oleh R.M Soemardjo Nitinegoro, SH., Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi “Putra Jaya”, Yogyakarta.


0 komentar:

Poskan Komentar